PRABUMULIH, Viapost.id | Seorang orang tua pasien mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelayanan Rumah Sakit Padilah Prabumulih. Ia menilai pelayanan yang diterima anaknya tidak profesional, minim komunikasi, dan justru menimbulkan beban biaya yang cukup besar.
Peristiwa ini bermula saat mereka datang ke rumah sakit pada malam hari setelah anaknya mengalami luka di bagian atas mata yang mengeluarkan banyak darah. Selain itu, kepala sang anak juga sempat terbentur.
Pada pemeriksaan awal, perawat dan tenaga medis dinilai cukup sigap. Luka langsung dijahit dan dilakukan rontgen untuk memastikan kondisi kepala anak. Hasil rontgen menunjukkan kondisi normal, perdarahan berhenti, dan kondisi sang anak mulai membaik.
Menurut orang tua pasien, perawat kemudian menyampaikan bahwa dokter baru akan datang keesokan hari sekitar pukul 10.00 WIB. Karena kondisi anak sudah stabil, keluarga berniat melanjutkan perawatan secara rawat jalan.
Namun hingga pukul 10.00 WIB, dokter tak kunjung datang. Ketika ditanyakan, perawat meminta keluarga untuk menunggu hingga pukul 15.00 WIB. Saat waktu tersebut tiba, dokter tetap tidak hadir. Pasien kembali diminta menunggu hingga pukul 16.00 WIB.
Selama masa penantian itu, menurut pengakuan orang tua, tidak ada pemeriksaan lanjutan, tidak ada pemberian obat, serta tidak ada komunikasi dari perawat mengenai perkembangan kondisi anak. Luka anak kembali terasa sakit karena efek bius habis, bahkan mata mulai bengkak.
Ketika ditanyakan kembali, perawat disebut hanya memberikan jawaban, “Kalau mau dikasih obat, kita suntik saja, tapi harus nginep tiga hari lagi.”
Pernyataan itu membuat orang tua pasien heran karena kondisi anak sebelumnya sudah dinyatakan baik dan rontgen normal. Mereka memilih pulang karena keberatan biaya—terlebih tarif kamar semalam mencapai Rp400 ribu.
Namun sebelum pulang, perawat dikatakan memberikan suntikan sebanyak enam kali dalam waktu berdekatan. Setelahnya, keluarga diberi rincian biaya perawatan sebesar Rp2,8 juta, yang membuat orang tua pasien merasa terkejut dan kecewa.
“Semalaman tidak ada obat, tidak ada tindakan, tidak ada penjelasan. Tapi saat kami mau pulang, anak saya disuntik 6 kali dan biayanya hampir 3 juta. Saya benar-benar kecewa,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa proses menunggu resep pun memakan waktu lama, dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.
Orang tua pasien berharap RS Padilah Prabumulih dapat mengevaluasi pelayanan, meningkatkan profesionalisme petugas, serta memberikan kejelasan terkait prosedur dan biaya agar kejadian serupa tidak dialami pasien lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RS Padilah Prabumulih belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut.
